{"id":21,"date":"2026-03-26T10:52:43","date_gmt":"2026-03-26T09:52:43","guid":{"rendered":"https:\/\/themedicaltribune.com\/id\/2026\/03\/26\/apakah-rokok-elektronik-mempengaruhi-otak-sebanyak-rokok-konvensional\/"},"modified":"2026-03-26T10:53:32","modified_gmt":"2026-03-26T09:53:32","slug":"apakah-rokok-elektronik-mempengaruhi-otak-sebanyak-rokok-konvensional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/themedicaltribune.com\/id\/2026\/03\/26\/apakah-rokok-elektronik-mempengaruhi-otak-sebanyak-rokok-konvensional\/","title":{"rendered":"Apakah Rokok Elektronik Mempengaruhi Otak Sebanyak Rokok Konvensional?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/themedicaltribune.com\/\/id\/wp-content\/uploads\/shared\/e-cigarette-1301664_640.jpg\" alt=\"Apakah Rokok Elektronik Mempengaruhi Otak Sebanyak Rokok Konvensional?\" class=\"featured-image\" \/><\/p>\n<h1>Apakah Rokok Elektronik Mempengaruhi Otak Sebanyak Rokok Konvensional?<\/h1>\n<p>Rokok elektronik sering dipromosikan sebagai alternatif yang kurang berbahaya dibandingkan rokok tradisional. Namun, dampaknya terhadap otak masih kurang dipahami dan bisa saja sama mengkhawatirkannya. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa menghirup uap dari rokok elektronik mengganggu beberapa mekanisme penting otak, terutama yang melindungi dan memberi nutrisi pada otak.<\/p>\n<p>Otak dilindungi oleh penghalang alami yang disebut penghalang darah-otak. Penghalang ini menyaring zat-zat yang ada dalam darah dan mencegah racun mencapai neuron. Studi menunjukkan bahwa paparan aerosol dari rokok elektronik melemahkan penghalang ini. Protein yang menjaga kekencangannya, seperti klaudin-3, produksinya menurun. Hal ini meningkatkan permeabilitasnya dan mendorong peradangan, fenomena yang juga diamati pada asap tembakau. Peradangan ditandai dengan peningkatan molekul spesifik yang menandakan reaksi pertahanan berlebihan.<\/p>\n<p>Otak membutuhkan glukosa untuk berfungsi dengan baik. Transporter seperti GLUT1 dan GLUT3 memungkinkan gula ini melewati penghalang darah-otak. Namun, penggunaan rokok elektronik mengurangi aktivitas transporter ini. Dalam kasus stroke, di mana otak sudah kekurangan oksigen dan glukosa, gangguan ini memperburuk kerusakan. Sel-sel otak, yang kurang mendapat pasokan energi, menjadi lebih rentan.<\/p>\n<p>Konsekuensinya tidak berhenti di situ. Eksperimen pada hewan menunjukkan bahwa uap dari rokok elektronik mengganggu kemampuan kognitif. Tikus yang terpapar membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas memori dan menunjukkan tanda-tanda peradangan otak. Gangguan ini mirip dengan yang disebabkan oleh tembakau, yang dikenal mempercepat penurunan kognitif dan meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif.<\/p>\n<p>Nikotin, yang terdapat dalam sebagian besar cairan vaping, memainkan peran sentral dalam efek ini. Nikotin mengubah aktivitas neuron dan dapat mengganggu komunikasi antar sel otak. Meskipun rokok elektronik menghindari beberapa komponen beracun dari asap tembakau, seperti karbon monoksida, mereka sering mengandung konsentrasi nikotin yang tinggi. Nikotin ini bekerja langsung pada reseptor otak, mempengaruhi perhatian, memori, dan respons terhadap stres.<\/p>\n<p>Salah satu obat yang digunakan untuk diabetes, metformin, menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam studi hewan. Obat ini mengurangi peradangan dan melindungi sebagian penghalang darah-otak dari kerusakan yang disebabkan oleh uap rokok elektronik. Hal ini menunjukkan bahwa perawatan tertentu dapat membatasi risiko neurologis, tetapi uji coba pada manusia masih diperlukan.<\/p>\n<p>Berbeda dengan anggapan umum, rokok elektronik ternyata tidak netral bagi otak. Penggunaannya dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko stroke dan penurunan fungsi intelektual. Mekanisme yang terlibat sangat mirip dengan yang disebabkan oleh tembakau, sehingga mempertanyakan anggapan bahwa rokok elektronik tidak berbahaya. Para peneliti menekankan pentingnya mempelajari lebih dalam dampaknya, terutama pada kaum muda yang otaknya masih dalam tahap perkembangan.<\/p>\n<hr>\n<h2>Sources utilis\u00e9es<\/h2>\n<h3>Source du rapport<\/h3>\n<p><strong>DOI\u00a0:<\/strong> <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1186\/s13064-026-00255-8\" target=\"_blank\">https:\/\/doi.org\/10.1186\/s13064-026-00255-8<\/a><\/p>\n<p><strong>Titre\u00a0:<\/strong> Uncovering the neurophysiological parallels between vaping and traditional cigarette smoking<\/p>\n<p><strong>Revue : <\/strong> Discover Neuroscience<\/p>\n<p><strong>\u00c9diteur : <\/strong> Springer Science and Business Media LLC<\/p>\n<p><strong>Auteurs : <\/strong> Huda Al-Bana; Manneha Qazi; Mustapha Kah; Ikram Afridi; Khalid Mohamed; Ronak Bhatia; Emmanuel Ocampo; Chimezie Amaefuna; Ositadimma Ugwuanyi; Rawan Elkomi; Muhammad Ahmad Imran; Syed Fahad Gillani; Mekdem Bisrat; Mrinalini Deverapalli; Miriam Michael<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah Rokok Elektronik Mempengaruhi Otak Sebanyak Rokok Konvensional? Rokok elektronik sering dipromosikan sebagai alternatif yang kurang berbahaya dibandingkan rokok tradisional. Namun, dampaknya terhadap otak masih kurang dipahami dan bisa saja sama mengkhawatirkannya. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa menghirup uap dari rokok elektronik mengganggu beberapa mekanisme penting otak, terutama yang melindungi dan memberi nutrisi pada otak. Otak&hellip; <a class=\"more-link\" href=\"https:\/\/themedicaltribune.com\/id\/2026\/03\/26\/apakah-rokok-elektronik-mempengaruhi-otak-sebanyak-rokok-konvensional\/\">Lanjutkan membaca <span class=\"screen-reader-text\">Apakah Rokok Elektronik Mempengaruhi Otak Sebanyak Rokok Konvensional?<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,4],"tags":[],"class_list":["post-21","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-budaya","category-manusia","entry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/themedicaltribune.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/themedicaltribune.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/themedicaltribune.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/themedicaltribune.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/themedicaltribune.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/themedicaltribune.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22,"href":"https:\/\/themedicaltribune.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21\/revisions\/22"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/themedicaltribune.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/themedicaltribune.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/themedicaltribune.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}